[Puisi] Gema di Pagi Hari

Gema Pagi
Sumber Gambar: Annubala
Annubala ID Puisi

Gema di Pagi Hari
Oleh Irfan Fauzi

Bukankah semua kekayaan alam milik pribumi?
Sebab itulah aspirasinya ibu pertiwi.
Bukankah senandung surat melayang di bangku singgasana,
Namun berakhir laksana semilir angin lama?

Jeritan hati kecil rakyat melengking ke udara,
Meratapi wahana ketertindasan yang tak kunjung reda.
Kemana perginya sebuah harapan?
Kemana hilangnya sebuah kebebasan?

Penghulu bangsa, sampaikah gema hati ini dipangkuanmu?
Bukankah lantunan isak tangis bergema di singgasanamu?
Dampingilah hati kecil ini dengan semangat keberanianmu,
Sebab mereka telah melahap peninggalan leluhur bangsamu.

Wahai pendengar alunan hati bangsa,
Sungguh, belum terjamah pijakannya rakyat lemah,
Oleh pasak kunci yang diberi wewenang bangsa,
Tak ditemukan sesuap pun bahan tuk dimamah.

Satu asa sangatlah berharga di saat genting,
Dibanding selusin wacana tak sebanding penting.
Asa marhaen tidak lebih dari pencaharian,
Suatu objek yang disebut dengan makan.

Duhai pemegang adikuasa tetap,
Akankah langit-langit ini kan berganti atap?
Akankah kertas kabar ini kan disilap mata?
Menghangatkan sebatih dari kejamnya hawa?

Oh bapaknya, bapaknya rakyat,
Anak-anakmu ini banyak yang tersendat,
Dari biaya jenjang pendidikan lanjutan,
Bahkan pra-lanjutan pun mereka tak berkesempatan.

Perlulah diingat wahai penduduk negeri,
Jauh di hati mungil tembus sanubari,
Ada secercah impian yang belum terjaga,
Yakni potensi cikal tuk mewujudkan harapan bangsa.

Baca juga :