Musikalisasi Hadis: Ketika Syair Syiah Menjadi Tren Musik Islami
Annubla ID - Pesona syair adalah perihal yang digemari dalam dunia permusikan. Pasalnya sejak syair berkembang di Jazirah Arab dulu kala, syair di samping ajang kompetensi ia juga menjadi sarana komunikasi layaknya berita, breaking news, atau sesamanya.
Seiring lajunya peradaban Islam, hal itu mempengaruhi dunia syair yang semakin masif diminati, antaranya adalah musikalisasi hadis.
Musikalisasi hadis dapat dipahami sebagai alunan musik yang liriknya bersumber dari teks-teks hadis, bisa berupa keseluruhan teks hadis atau sekedar pemaknaannya.
Tentunya ini menjadi sebuah tren dalam dunia permusikan, khususnya pada genre Islamic. Para maestro musik, terutama Indonesia turut mempopulerkan alunan musik dari hadis tersebut.
Menariknya bahwa dalam kajian hadis belum tentu klaim kebenaran hadis berada pada satu otoritas, melainkan bersifat multi-interpretasi (ragam pemahaman).
Tulisan ini akan berupaya menelaah sisi teologis pemaknaan hadis yang dijadikan alunan musik dalam bentuk syair. Tentunya penulis hanya akan menelaah syair yang cukup representatif dalam mengungkap sisi teologis tersebut.
Namun sebelumnya penulis perlu menyamakan persepsi terlebih dahulu terkait istilah syair (شعر) dan qasidah (قصيدة).
Syair adalah kalam yang disajakkan (muqoffan) dan diiramakan (mauzun) dengan sengaja (Mu’jam At-Ta’rifat, h. 109). Sedangkan qasidah adalah kumpulan syair atau puisi yang terdiri dari 3 atau 7 bait ke atas (Terj. Al-'Arudh).
Dari istilah tersebut dapat dipahami bahwa syair adalah sajak-sajaknya, sedangkah qasidah adalah kumpulan dari sajak yang telah sempurna. Pendek kata, keduanya sama-sama diiramakan.
Syair yang dimaksud di sini adalah syair atau qasidah inna fil jannati nahran min laban (sungguh di dalam surga terdapat sungai susu). Hampir seluruh musisi di Indonesia menyanyikan lagu tersebut, secara kolektif juga mereka unggah dikanal youtube. Mulai dari bentuk cover lagu yang bergenre banjari, akustik, maupun pop.
Qasidah ini menjadi salah satu daftar yang galib dinyanyikan oleh para Habaib, mengingat kandungan di dalamnya berupa sanjungan kepada Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad Saw.).
Sebagaimana yang diutarakan di awal tulisan bahwa qasidah “inna fil jannati nahran min laban” merupakan lagu yang bersumber dari interpretasi hadis Nabi Muhammad Saw. Hal inilah yang menjadi gimik dari musikalisasi hadis, dimana orientasi hadis mesti menyentuh aspek teologis dalam ajaran Islam.
Sebelum lebih lanjut kiranya penulis sajikan lirik dari qasidah tersebut:
إِنَّ فِي اْلجَنَّةِ نَهْرًا مِنْ لَبَــنْ * لِعَلِيٍّ وَحُسَــــيْنٍ وَحَسَـــــنْكُلُّ مَنْ كَانَ مُحِبًّـــــــــا لَهُمُ * يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ مِنْ دُوْنِ حَزَنْ
(Sungguh di dalam surga terdapat sungai susu * Teruntuk Sayyidina Ali, Husain, dan Hasan)
(Siapa saja yang mencintai mereka [keluarga Nabi] * Ia akan masuk surga tanpa kesedihan)
Seiring masifnya perkembangan musik yang ditandai dengan munculnya musikus-musikus terkenal terutama dalam genre islami, lirik syair ini pun ikut populer kembali dalam dunia qasidah.
Musikus yang mula menyanyikan lirik tersebut adalah seorang kelahiran Iran, Sami Yusuf. Penyanyi tersohor ini menerbitkan single lagunya dengan judul “inna fil jannati” pada tahun 2016 di kanal youtube-nya.
Jika meninjau ke belakang, syair tersebut diketahui sudah ada sejak abad ke-11 H. Asumsi ini tentunya berdasarkan data yang ditemukan dalam kitab Al-Shafi fi Tafsir al-Qur’an (7/566) karya ulama terkemuka yakni Muhammad bin Murtadha atau populer dipanggil Maula Muhsin Al-Kasyani (1001-1091 H).
Sayangnya dalam kitab tafsir itu, mushanif tidak menyebutkan inisial penggubah dari syair di atas.
Tinjauan Al-Qur’an dan Hadis
Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan gambaran kenikmatan surga berupa sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Sebagaimana contoh dalam surat Muhammad ayat 15:
مَثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَآ أَنْهٰرٌ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍ وَأَنْهٰرٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ .. الايةArtinya: "Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya..."
Perihal sungai yang dimaksud dalam Al-Qur’an diterangkan lebih perinci dalam hadis Nabi Muhammad Saw dikala perjalanan Mi’raj-nya, yaitu:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رُفِعْتُ إِلَى السِّدْرَةِ، فَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ: نَهَرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهَرَانِ بَاطِنَانِ، فَأَمَّا الظَّاهِرَانِ: النِّيلُ وَالفُرَاتُ، وَأَمَّا البَاطِنَانِ: فَنَهَرَانِ فِي الجَنَّةِ...الحديث
Artinya: "Diriwayatkan oleh Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: saya diangkat menuju Sidratul Muntaha. (di dalam dasar Sidratul Muntaha) terdapat empat sungai: dua sungai dzahir dan dua sungai bathin. Adapun sungai dzahir adalah Sungai Nil dan Sungai Eufrat. Sedang sungai bathin adalah dua sungai yang ada di surga ..."
(HR. Bukhari, no. 5610)
Topik pembahasan pada hadis di atas adalah makna dua sungai yang ada di surga. Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari syarah Shahih Bukhari (7/214) menuturkan riwayat hadis dari Abu Sa’id bahwa dua sungai yang ada di surga bisa jadi sungai Kautsar dan sungai Rahmah.
وَفِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فَإِذَا فِيهَا عَيْنٌ تَجْرِي يُقَالُ لَهَا السَّلْسَبِيلُ فَيَنْشَقُّ مِنْهَا نَهْرَانِ أَحَدُهُمَا الْكَوْثَرُ وَالْآخَرُ يُقَالُ لَهُ نَهْرُ الرَّحْمَةِ. قُلْتُ فَيُمْكِنُ أَنْ يُفَسَّرَ بِهِمَا النَّهْرَانِ الْبَاطِنَانِ الْمَذْكُورَانِ فِي حَدِيثِ الْبَابِ
Artinya: “Dalam riwayat hadis Abu Sa’id: (saya –Muhammad– melihat di langit ketujuh) ada sebuah mata air yang mengalir yang disebut dengan Salsabil, dari sumber ini mengalirlah dua sungai, pertama, sungai Kautsar, kedua, sungai Rahmah. Saya berkata (Ibnu Hajar) bisa jadi maksud dari dua sungai itu adalah sungai Kautsar dan sungai Rahmah.”
Imam Muqatil, sang mufassir mengatakan dua sungai bathin adalah sungai Salsabil dan sungai Kautsar. Adapun pendapat keberadaan sungai Saihun dan sungai Jaihun bukan penafsiran dari dua sungai bathin.
Imam Nawawi juga menegaskan bahwa sungai Nil dan Eufrat berasal dari surga, keduanya keluar dari dasar Sidratul Muntaha kemudian mengalir dengan kehendak Allah, lalu mengalir ke bumi sebagaimana mestinya. Perihal ini tidak bertentangan dengan logika dan dapat disaksikan sebagimana teks hadis.
(Lihat selengkapnya dalam Fath Al-Bari j.7/h.214)
Dari pemaparan di atas, kita kembali lagi pada pemaknaan syair inna fil jannati nahran min laban, bahwa mayoritas ulama tafsir dan hadis bilamana menyebutkan sungai yang terdapat di surga maka akan merujuk pada penafsiran sungai Kautsar. Hal ini didukung dalam beberapa riwayat gambaran sungai Kautsar.
Di sini penulis akan memamparkan dua versi terkait hadis tersebut.
Pertama, hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik (Lihat Muslim no. 400, Bukhari no. 4864-4966, Ahmad no. 6476, 11996, 12675, 13578).
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا، فَقُلْنَا: مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ» فَقَرَأَ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ} ثُمَّ قَالَ: «أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ؟» فَقُلْنَا اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: " فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ، عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ، هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ، .فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ، فَأَقُولُ: رَبِّ، إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ: مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَArtinya: “...Kemudian Nabi berkata: “Apakah kalian tahu al-kautsar itu”?. Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tau”. Beliau menjawab: Ia adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku kepadaku. Padanya terdapat kebaikan yang banyak. Ia adalah telaga yang umatku menemuiku pada hari kiamat, wadahnya sebanyak jumlah bintang, lalu seorang hamba dari umatku terhalang darinya, maka aku berkata: “Wahai Rabbku, sesungguhnya dia termasuk umatku”. Maka Allah berkata: “Kamu tidak tahu sesuatu yang terjadi setelah (meninggalmu)”
(HR. Muslim no. 400).
Beberapa riwayat, Nabi bertanya kepada Jibril: “Apa ini?” Ia menjawab: “al-kautsar adalah nikmat yang Allah anugerahkan kepadamu”.
Ibnu Umar mengatakan bahwa al-kautsar adalah sungai yang berada di surga, kedua tepinya terbuat dari emas, di dalamnya terbuat dari intan dan yaqut, aromanya lebih wangi dari minyak misik, airnya lebih manis dari madu, dan warnanya lebih putih dari susu (Tafsir Marah Labid, h.959)
Kedua, hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas (Lihat Al-Amali karya Muhammad bin Hasan bin Ali Al-Thusy (385-436 H), “syaikhul imamiyyah” seorang ulama besar dari sekte Syi'ah Imamiyyah.
Ia (Abdullah bin Abbas) berkata: Disaat surat Al-Kautsar turun kepada Nabi. Ali bin Abi Thalib bertanya kepada Nabi: Apa itu al-kautsar wahai Rasulullah?.
Nabi menjawab: “yaitu sungai yang Allah muliakan kepadaku karenanya”. Ali Ra. berkata: “Sungguh sungai ini mulia, ikutkanlah kami ya Rasulullah”. Nabi menjawab: “Benar wahai Ali, ...”. Lalu Nabi memukul tangannya di sisi Ali dan berkata: Wahai Ali, bahwasannya sungai ini diberikan kepadaku, kepadamu, dan kepada orang yang mencintaimu setelah sepeninggalanku”.
(Al-Amali, 3/116. nomor hadis 11)
Sedikit penulis singgung bahwa hadis pertama bersumber dari kalangan sunni sementara hadis kedua bersumber dari kalangan syiah.
Meskipun riwayat di atas dari dua aliran yang berbeda. Namun keduanya hampir memiliki kesamaan makna, hadis pertama menjelaskan sungai Kautsar hanya diberikan secara istimewa kepada Nabi, sedang hadis kedua menjelaskan sungai Kautsar diberikan kepada Nabi, sahabat Ali, dan orang yang mencintai sahabat Ali.
Maka dapat dipahami bahwa pemaknaan hadis dalam syair inna fil jannati bersumber dari teologi sekte Syiah Imamiyah. Sebab hanya riwayat dari kalangan syiah yang menjelaskan bahwa sungai Kautsar diberikan kepada sahabat Ali dan muhibbinnya. Tentu hal itu senada dengan lirik dari qasidah di atas.
Sekte syiah Imamiyah/Imamah sendiri adalah suatu aliran islam yang mengimani kedua belas imam yang dianggap suci dan maksum yang menurut pandangannya dipilih oleh Nabi Muhammad Saw.
Tentunya teologi tersebut berimplikasi pada aspek-aspek hukum Islam sendiri, salah satunya adalah pada gubahan-gubahan syair. Tak ayal pandangan sunni dan syiah memiliki perbedaan yang fundamental.
Karenanya, qasidah atau syair yang diciptakan oleh kalangan syiah cenderung bernuansa sanjungan kepada Ahlul Bait Rasulullah, terutama sahabat Ali, Hasan dan Husein. Bila ditelusuri lebih lanjut, lagu atau qasidah yang bernuansa syiah tentu sangat banyak.
Namun terlepas polemik tersebut, baik sunni maupun syiah keduanya memiliki legitimasi hukum dari hadis-hadis Nabi yang berupa perintah untuk mencintai ahlul bait. (lihat At-Tirmidzi, no. 3789, At-Thabrani, no. 829-830, 2679-2680, An-Nasai, no. 8092 & 8410)
Alhasil, hemat penulis sah-sah saja mendendangkan qasidah atau syair yang bersumber dari kalangan syiah. Sebab bagaimanapun syair-syair yang berupa sanjungan kepada Rasulullah atau ahlul bait merupakan teologi yang bersifat berdikari, baik sunni atau syiah keduanya memiliki keyakinan perintah untuk mencintai Ahlul Bait.
Wallahu A'lam
Gabung dalam percakapan